Fantastis! 10 Turnamen Gaming Ini Bagikan Total Hadiah Lebih dari 1 Triliun Rupiah

Bayangkan pulang ke rumah dengan cek senilai 200 miliar rupiah—hanya karena kamu jago main game.

Kedengarannya seperti fantasi? Tidak di dunia esports modern. Industri gaming kompetitif telah bertransformasi dari kompetisi basement kecil-kecilan menjadi mega-event dengan prize pool yang menyaingi turnamen olahraga tradisional.

Buat kamu yang masih menganggap gaming sebagai “buang-buang waktu”, artikel ini akan membuka mata. Esports bukan lagi sekadar hobi—ini adalah industri miliaran dollar dengan ekosistem profesional yang kompleks: atlet, pelatih, sponsor, broadcaster, hingga analyst.

Di bawah ini adalah 10 turnamen esports dengan prize pool terbesar dalam sejarah, lengkap dengan data, fakta menarik, dan insight tentang bagaimana kompetisi gaming ini mengubah landscape entertainment global. Siap-siap tercengang dengan angka-angkanya!


1. The International 10 (Dota 2) — $40,018,195

The International 10 (TI10) yang digelar pada Oktober 2021 di Bucharest, Rumania, mencetak rekor sebagai turnamen esports dengan prize pool terbesar sepanjang masa: lebih dari $40 juta atau sekitar 600 miliar rupiah.

Tim Team Spirit dari Eropa Timur keluar sebagai juara, membawa pulang $18,208,300 (sekitar 273 miliar rupiah)—angka yang bahkan lebih besar dari hadiah juara Grand Slam tennis!

Apa yang membuat TI10 istimewa? Valve menggunakan sistem crowdfunding melalui Battle Pass in-game. Pemain Dota 2 di seluruh dunia berkontribusi dengan membeli Battle Pass, dan 25% dari penjualannya langsung masuk ke prize pool. Hasilnya? Prize pool yang terus membengkak setiap tahun.

Fakta menarik: TI10 seharusnya digelar tahun 2020, tapi ditunda karena pandemi. Penundaan ini justru memberikan lebih banyak waktu untuk akumulasi dana, menciptakan rekor baru yang sulit dipecahkan.


2. The International 11 (Dota 2) — $40,018,186

Hampir identik dengan TI10, The International 11 yang digelar di Singapura pada Oktober 2022 berhasil mengumpulkan prize pool $40,018,186—hanya terpaut $9 dari TI10.

Tundra Esports dari Eropa Barat menjadi juara dan membawa pulang $8,517,133. Menariknya, meskipun total prize pool hampir sama dengan TI10, distribusi hadiah untuk juara lebih kecil karena Valve mengubah struktur pembagian hadiah untuk lebih merata ke semua tim peserta.

Perubahan signifikan: Mulai TI11, Valve mengurangi persentase kontribusi Battle Pass ke prize pool dari 25% menjadi lebih kecil, sebagai respons terhadap kritik bahwa mereka terlalu bergantung pada crowdfunding tanpa kontribusi langsung yang cukup besar.

Insight bisnis: Model crowdfunding TI membuktikan bahwa community engagement bisa menjadi sumber revenue yang luar biasa. Ini adalah case study sempurna tentang bagaimana melibatkan user base dalam ekosistem produk.


3. The International 9 (Dota 2) — $34,330,068

TI9 di Shanghai, China (Agustus 2019) adalah turnamen pertama yang menembus angka $34 juta. OG, tim legendaris dari Eropa, menjadi juara untuk kedua kalinya berturut-turut, membawa pulang $15,620,181.

Yang membuat TI9 bersejarah: ini adalah TI pertama yang digelar di China, negara dengan player base Dota 2 terbesar di dunia. Antusiasme lokal luar biasa—tiket sold out dalam hitungan menit, venue Mercedes-Benz Arena penuh sesak dengan 18,000 penonton setiap hari.

OG’s dominance: Tim yang dipimpin oleh legendary captain N0tail dan superstar Topson ini membuktikan bahwa esports membutuhkan kombinasi skill individual, teamwork, dan mental fortitude. Mereka datang sebagai underdog dan meninggalkan arena sebagai champion—dua tahun berturut-turut.

Pelajaran: Di dunia esports, reputasi dan fanbase bisa dibangun dalam semalam. OG dari tim tier-2 menjadi salah satu organisasi esports paling dihormati di dunia hanya dalam dua tahun.


4. The International 8 (Dota 2) — $25,532,177

TI8 di Vancouver, Kanada (Agustus 2018) adalah tahun di mana OG menciptakan Cinderella story terbesar dalam sejarah esports. Prize pool mencapai $25,532,177, dengan juara membawa pulang $11,234,158.

Konteks dramatis: OG hampir tidak lolos kualifikasi. Mereka harus melalui Open Qualifier (jalur terbawah) setelah roster mereka berantakan menjelang TI. Diprediksi finish di posisi bawah, mereka malah menjadi juara dengan performa yang fenomenal.

Grand Final yang legendary: OG vs PSG.LGD adalah salah satu series paling intens dalam sejarah Dota 2. Game terakhir berlangsung lebih dari 50 menit dengan comeback dramatis yang membuat jutaan viewer di Twitch berteriak histeris.

Dampak kultural: Kemenangan OG membuktikan bahwa underdog narrative masih sangat powerful di era modern. Mereka membuktikan bahwa skill dan chemistry bisa mengalahkan tim dengan budget unlimited.


5. The International 7 (Dota 2) — $24,787,916

TI7 di Seattle, USA (Agustus 2017) menandai era di mana prize pool Dota 2 mulai konsisten di atas $20 juta. Total hadiah mencapai $24,787,916, dengan Team Liquid dari Eropa sebagai juara, membawa pulang $10,862,683.

Kenapa TI7 penting? Ini adalah tahun di mana esports mulai mendapat pengakuan mainstream secara masif. ESPN dan media tradisional mulai meliput TI dengan serius, bukan lagi sebagai “oddity” tapi sebagai legitimate sporting event.

Team Liquid’s journey: Dipimpin oleh KuroKy, salah satu player paling respected dalam komunitas, Team Liquid menunjukkan bahwa longevity dan consistency adalah kunci sukses jangka panjang di esports. KuroKy sendiri adalah veteran yang telah berkompetisi sejak 2008.

Business insight: TI7 membuktikan bahwa branding dan storytelling adalah aset penting dalam esports. Organisasi seperti Team Liquid yang memiliki branding kuat dan fanbase loyal memiliki keuntungan komersial jangka panjang melampaui prize money.


6. Fortnite World Cup 2019 (Fortnite) — $30,422,000

Satu-satunya non-Dota 2 game di top 10, Fortnite World Cup 2019 di New York City menghebohkan dunia dengan total prize pool $30,422,000 untuk berbagai kategori kompetisi.

Kyle “Bugha” Giersdorf, seorang remaja 16 tahun dari Pennsylvania, menjadi juara Solo competition dan membawa pulang $3,000,000. Videonya menang sambil tetap santai menjadi viral dan iconic.

Kenapa Fortnite berbeda? Epic Games mensubsidi penuh prize pool dari kantong sendiri—tidak ada crowdfunding. Ini adalah power move untuk memposisikan Fortnite sebagai esports juggernaut yang bersaing dengan game-game established seperti Dota 2 dan League of Legends.

Impact pada industri: Fortnite World Cup membuktikan bahwa accessibility dan hiburan massa bisa menjadi strategi esports yang berbeda dari traditional competitive games. Fortnite lebih fokus pada spectacle dan entertainment value daripada pure competitive depth.

Pelajaran bisnis: Epic Games rela investasi ratusan juta dollar untuk esports sebagai marketing tool. Hasilnya? Fortnite menjadi cultural phenomenon dan menghasilkan billions dari in-game purchases.


7. The International 6 (Dota 2) — $20,770,460

TI6 di Seattle (Agustus 2016) adalah turnamen pertama yang menembus $20 juta, dengan total prize pool $20,770,460. Wings Gaming dari China menjadi juara dark horse, membawa pulang $9,139,002.

Wings Gaming story: Tim yang hampir tidak dikenal ini datang dengan playstyle unconventional yang membingungkan semua lawan. Mereka memilih hero-hero yang dianggap “off-meta” dan menciptakan strategi yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Tragedi setelah kemenangan: Wings Gaming bubar tidak lama setelah TI6 karena konflik dengan organisasi mereka. Para player ter-blacklist dari kompetisi China selama bertahun-tahun—menjadi cautionary tale tentang pentingnya contract dan player rights di esports.

Lesson learned: Industri esports pada masa itu masih wild west dalam hal regulasi. Kisah Wings Gaming menjadi katalisator untuk diskusi lebih serius tentang player protection, unions, dan standardisasi kontrak di esports.


8. The International 5 (Dota 2) — $18,429,613

TI5 di Seattle (Agustus 2015) adalah tahun di mana prize pool Dota 2 pertama kali melampaui $18 juta, shocking seluruh dunia gaming dan bahkan mainstream media.

Evil Geniuses dari North America menjadi juara, dengan $6,634,660 sebagai hadiah. Ini adalah kemenangan pertama untuk region NA di TI, breaking dominasi China dan Europe yang telah berlangsung sejak TI1.

Cultural moment: Kemenangan EG membuat esports masuk headline New York Times, ESPN, dan Forbes. Tiba-tiba, orang tua yang dulu melarang anak-anaknya bermain game mulai mempertimbangkan esports sebagai legitimate career path.

Player spotlight: Sumail “SumaiL” Hassan, player berusia 16 tahun asal Pakistan yang bermain untuk EG, menjadi youngest esports millionaire pada saat itu. Storynya—dari immigrant kid menjadi world champion—resonates secara global.

Business takeaway: TI5 membuktikan bahwa prize pool besar menciptakan publicity yang tidak bisa dibeli. Free marketing dari media coverage bernilai jauh lebih besar dari biaya prize money itu sendiri.


9. The International 12 (Dota 2) — $17,000,000+

TI12 di Seattle (Oktober 2023) menandai perubahan besar dalam model TI. Prize pool “hanya” sekitar $17 juta (angka pastinya bervariasi tergantung sumber)—drop signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Team Spirit dari Eropa Timur menjadi juara untuk kedua kalinya, mengulang kesuksesan mereka di TI10.

Apa yang berubah? Valve menghilangkan Battle Pass sebagai kontributor utama prize pool dan menggantinya dengan model distribusi revenue yang lebih kompleks. Keputusan ini kontroversial—banyak yang melihatnya sebagai Valve mengurangi komitmen terhadap competitive scene.

Pro & Kontra: Sisi positifnya, tim-tim kini mendapat lebih banyak support sepanjang tahun melalui DPC (Dota Pro Circuit) yang lebih terstruktur. Sisi negatifnya, spectacle dari prize pool record-breaking yang menjadi trademark TI mulai hilang.

Insight: Industri esports sedang dalam fase maturation. Publisher mulai mencari sustainable model daripada hanya fokus pada headline-grabbing prize pools.


10. PUBG Mobile Global Championship 2022 (PUBG Mobile) — $4,017,000

PMGC 2022 yang digelar di Jakarta, Indonesia, menghadirkan total prize pool $4,017,000—menjadikannya salah satu turnamen mobile esports terbesar dalam sejarah.

Vampire Esports dari Thailand keluar sebagai juara, membawa pulang hadiah utama. Yang menarik, Indonesia sebagai tuan rumah membuktikan bahwa Southeast Asia adalah emerging powerhouse dalam esports, khususnya di kategori mobile gaming.

Kenapa mobile esports penting? Di banyak negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Brazil, mobile adalah primary gaming platform karena lebih accessible daripada PC atau console. PUBG Mobile, Free Fire, dan Mobile Legends memiliki player base yang jauh lebih besar dari PC games.

Market dynamics: Prize pool PUBG Mobile mungkin terlihat kecil dibanding Dota 2, tapi sponsorship dan viewership mereka kompetitif. Tencent berinvestasi besar di mobile esports karena mereka tahu ini adalah future market.

Business lesson: Jangan underestimate mobile gaming market. Revenue dari mobile games secara global sudah melampaui PC dan console combined. Esports akan mengikuti ke arah yang sama.


Kesimpulan

Dari Dota 2 yang mendominasi dengan prize pool ratusan miliar rupiah hingga mobile esports yang terus berkembang pesat, dunia kompetisi gaming telah membuktikan bahwa ini bukan lagi industri “niche”—ini adalah global entertainment powerhouse.

Total prize money dari 10 turnamen di atas saja sudah mencapai lebih dari 3 TRILIUN rupiah. Belum termasuk ribuan turnamen lain di seluruh dunia, sponsorship deals, salary pemain, streaming revenue, dan merchandise.

Buat entrepreneurs dan pebisnis, esports adalah case study sempurna tentang bagaimana:

  • Community engagement bisa menjadi revenue stream utama
  • Digital products bisa menciptakan value luar biasa
  • Storytelling dan branding lebih penting dari produk itu sendiri
  • Early adoption dalam emerging market bisa memberikan competitive advantage jangka panjang

Buat mahasiswa yang masih ragu apakah gaming bisa jadi karir: angka-angka di atas berbicara sendiri. Tapi ingat, di balik setiap champion ada ribuan jam latihan, sacrifice, dan mental fortitude yang luar biasa.

Leave a Comment